Minggu, 20 Januari 2013
#Awalnya
Aku tau... kau dekat dengan seseorang...
mungkin sangat dekat... kedekatan yang membuat diri ini semakin jauh untuk
mendekati diri mu... berkirim pesan pun ku tak berani, beruntung ku masih
memiliki secuil keberanian untuk menghalau keputusasaan ini. kegalauan yang
ku rasa semakin berkibar seiring berjalannnya waktu. Sungguh malang nasib.
Berlebihan.... Mungkin iya...
hati siapa yang kuat melihat seseorang
yang diharapkan untuk menemani hari-hari ini, tengah bersama orang lain. Inilah
kenyataannya... inilah yang harus dihadapi... bukan malah lari untuk mencari
pengganti. terus dan terus menyemangati diri sendiri untuk memperjuangkan apa
yang di inginkan tanpa bermaksud mengambil hak orang lain.
Pesan terus ku kirim.... entah dia sudah
bosen namun ku tak begitu peduli..*maafkan atas keegoisan diri ini*.. jawaban
mu begitu indah, sangat singkat.... mungkin pesan ku tak begitu penting
dibandingkan dengan si "DIA"... wajar.....
perahu harapan terus ku gayung agar sampai
di tepi pengharapan, menghindari hantaman ombak keputusasaan, menjauh dari
santapan Hiau kegalauan. Harus ku gayuh.... inilah pilihan yang harus
diputuskan.. Mati dalam pengharapan yang tidak perjuangkan atau hidup dengan
memperjuangkan Bidadari Kecil Ku sampai beberapa tahun ke depan [~2,5]
~~~ ku sampaikan salam rindu tiada batas,
untuk diri mu yang tengah berada dalam hangatnya kebersamaan keluarga ~~~
Tak ada alasan untuk tidak memenangkan

ahh..... bingung mau memulai dari mana.... takut ada yang ntr sakit hati, lebih tepatnya "khawatir" dapat predikat [ PHP ] huhuhuhu.... semoga semuanya khan baik-baik saja. aamiin.. :D
berada dalam keadaan
yang tidak menguntungkan sangatlah tidak mengenakkan namun klo mw dinikmati
bakal membawa cerita tersendiri. di samping sibuk mikirin UAS, juga mikirin
sesosok yang selalu membayangiku dengan penuh harapan. harapan untuk bisa
bareng2 di suatu saa nanti. sebenrnya tulisan ini mw curhat kegalauan ku aja....
hehehe....
Lanjut... !!!
sekarang udah
semester 5, beberapa minggu lagi udah masuk semester 6. namun tanda-tanda
kepastian harapan itu juga belum muncul.. #mungkin nunggu lulus atau emang g
suka aku.... *melas.e reghh :P. progres report tentang hati ini dengan hatinya
juga baik-baik aja. artinya semua berjalan seperti air mengalir semoga tidak
bermuara di comberan aja.... Aamiin....
klo sms.an ama si
"dya", fine2 aja.. tp klo yang tlf ***** :( cukup
bersabar dan terus berjuang :D. mungkin benar kata Orang Bijak biarkan indah pada
waktunya. tp masalah.e waktunya itu KAPAN ???
*gagsabar.com
yaa sudahlah.....
biarkan sang pemilik waktu yang menentukan tanggal maennya.. :) ;)
nb : maaf klo
tulisannya mbulet... yang nulis pikirannya lgi mbulet juga :P hehhehe
Profil
| Nama | Moh Amilin |
| TTL | Banyuwangi, 26 Oktober 1991 |
| Alamat | P.M Al-ihya’ |
| Hobi | Membaca dan jalan-jalan |
| Cita-cita | Guru , Petani/Peternak, dan Motivator |
| Motto | Hidup adalah perjuangan dan pengabdian |
| No. Hp | 085648498030 |
| moh.amilin10@student.ipb.ac.id | |
| Fb | Muhammad Amilin/amilin_elhasan@yahoo.com |
Riwayat Pendidikan
| Lembaga Pendidikan | Tahun Lulus |
| M.I Sunan Gunung Jati | 2004 |
| SMP Unggulan Habibullah | 2007 |
| M.A Unggulan Amanatul Ummah | 2010 |
| Institut Pertanian Bogor | 2010 – sekarang |
Riwayat Prestasi
| Prestasi | Lembaga | Tahun |
| Peserta Olimpiade Matematika Tingkat Provinsi | Universitas Negri Surabaya (UNESA) | 2008 |
| Siswa Teladan M.A Unggulan Amanatul Ummah | M.A Unggulan Amanatul Ummah | 2009 |
| Santri Terbaik I | PP. Amanatul Ummah | 2009 |
| Juara I Lomba Pidato Bahasa Arab | PP. Amanatul Ummah | 2009 |
| Peserta Olimpiade Matematika Tingkat Nasional | Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) | 2009 |
| Peserta Olimpiade Matematika Tingkat Provinsi | Institut Agama Islam Negri Sunan Ampel (IAIN S.A) | 2009 |
| Semifinalis Olimpiade Matematika Tingkat Provinsi | Universitas Negri Surabaya (UNESA) | 2009 |
| Penerima Beasiswa Kementrian Agama R.I | Kementrian Agama R.I | 2010 - sekarang |
Riwayat Organisasi
| Oraganisasi | Jabatan | Tahun |
| OSIS M.A Unggulan Amanatul Ummah | Bendahara | 2009-2010 |
| CSS MoRA IPB | Anggota | 2010-2011 |
| CSS MoRA IPB | SubDep FASPRO | 2011-2012 |
Riwayat Kepanitiaan
| Kepanitiaan | Jabatan | Tahun |
| Buka Bersama CSS MoRA IPB | Anggota | 2010 |
| Lomba Kebersihan Kontrakan CSS MoRA IPB | Ketua | 2010 |
| Bina dan Expo Pesantren | Anggota | 2011 |
| Pekan Santri Berprestasi Nasional | Anggota | 2011 |
| Open House CSS MoRA IPB 48 | Anggota | 2011 |
Seputar Peternakan Ku
Jumlahnya terus menyusut, dan secara umum peternak mandiri saat ini dalam kondisi berusaha bertahan menjaga kelangsungan usahanya
Untuk bertahan menjadi peternak mandiri di saat ini dan di masa datang, diperlukan modal dan mental yang kuat. Tidak bisa sekadar pas-pasan, karena di saat merugi besarannya pun tidak tanggung-tanggung. Bermodal kuat tapi mental tidak kuat dipastikan akan mundur. Sebaliknya mental kuat tapi tidak bermodal cukup, untuk sekarang tidak ada lagi ceritanya. Demikian diutarakan Setya Winarno, salah seorang peternak mandiri dari daerah Bogor, Jawa Barat.
Masa keemasan usaha budidaya broiler (ayam pedaging) komersial bagi peternak mandiri sudah berlalu. Masa-masa peternak bisa mendulang untung besar hanya terjadi di era 90-an. Sebagai gambaran adalah apa yang dialami Yan Sudiyanto. Menurut pengakuannya, dari keuntungan skala usaha broiler 20 ribu ekor ia mampu membeli 2 rumah, 5 petak tanah,dan 8 buah mobil. Ia menambahkan, kala itu usaha peternakan ayam 90 % didominasi peternakan rakyat. Dengan alasan kehabisan modal, di 1998 Yan dipaksa menyerah dan tidak lagi berstatus peternak mandiri setelah melakoni profesi tersebut selama 12 tahun. Kendati demikian, hasrat untuk kembali beternak broiler sampai hari ini belum padam. “Kalau ada yang beri modal saya beternak lagi,” ujar pria yang kini sibuk menjadi konsultan peternakan ini kepada Trobos Livestock.
Terus Susut
Berdasarkan versi peternak, yang diistilahkan dengan peternak mandiri adalah peternak yang membeli DOC (day old chicken/ayam umur sehari), pakan, dan obat–obatan kemudian memelihara dan menjual sendiri hasil produksinya. Fenomena terakhir menunjukkan, kelompok peternak ini keberadaannya makin tergerus. Jumlahnya terus menyusut dari waktu ke waktu.
Winarno menyodorkan fakta empiris. Kata pria yang juga Dewan Pengawas PPUN (Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara) ini, meskipun tidak ada data yang detil dan valid tetapi fenomena perkembangan negatif peternak mandiri bisa dibaca. Dicontohkan dia, saat PPUN berdiri di 2001 anggotanya sekitar 70 peternak mandiri yang terdiri atas 15 peternak senior dan 55 peternak yunior.
Setelah 11 tahun, peternak senior yang 15 orang masih bertahan dengan beberapa diantaranya semakin besar, tetapi sebagian besar mengecil skala usahanya. Sementara 55 yunior, melalui seleksi alam tinggal 7 – 8 peternak yang tetap bertahan. “Realitasnyasurvival rate (daya tahan-red) peternak mandiri setelah 10 tahun itu adalah 10 – 15 %. Mungkin kalau 15 tahun tinggal 5 – 10 %,” ujar pria yang biasa disapa Win ini.
Dipaksa Bertarung
Keterangan bermuatan keluhan juga disuarakan Sigit Prabowo, Ketua PPUN. Ia yang juga peternak mandiri di Bogor dan telah beternak 13 tahun mengisahkan, iklim usaha peternakan ayam saat ia memulai beternak sangat menjanjikan. Ia menyebut, populasi 5.000 ekor saja bisa memperoleh untung sampai Rp 20 juta. “Sekarang, alih-alih untung besar. Yang ada malah rugi,” keluhnya.
Ia mengurai pendapat, saat ini peternak mandiri dipaksa bertarung melawan usaha peternakan komersial kelompok kemitraan yang berafiliasi dengan perusahaan besar (baca: integrator). Semua peternakan ayam baik skala UKM (Usaha Kecil Menengah) maupun skala industri, hasil produksi usahanya menyasar target pasar yang sama, pasar becek,atau pasar tradisional. “Seharusnya, pelaku usaha skala industri tidak melempar panennya ke pasar becek, tapi menggarap pasar industri dan pasar modern,” ujarnya setengah menuntut.
Menurut dia, usaha peternakan ayam sekelas industri semestinya mampu menciptakan pasar sendiri karena kekuatan modal yang dimiliki, tenaga ahli/konsultan, sampai tim pemasaran. “Tidak sulit bagi mereka menggarap pasar baru, karena sudah punya rumah potong sendiri dengan produk ayam beku segar. Ketika produksi berlebih, karkas bisa disimpan di coldstorage,” terangnya. Kalau itu sudah berjalan dengan baik, peternak skala kecil akan mengikuti. Tapi kalau kondisinya seperti ini terus, kata Sigit, peternak skala kecil sulit bersaing dengan skala industri.
Dijelaskan Yan, dulu peternak rakyat jumlahnya banyak dan mampu bertahan karena aturannya jelas. Ketika itu berlaku Undang–Undang nomor 6/1967 dan Keputusan Presiden nomor 22 tentang peternakan yang mencantumkan pembatasan antara peternak rakyat dengan peternak besar. Pelaku usaha skala industri tidak boleh budidaya, kalaupun budidaya hasil produksinya tidak boleh dijual ke pasar becek dan harus diekspor.
Tetapi, pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid aturan tersebut dicabut/tidak berlaku, pemain skala besar maupun kecil sama disebutnya peternak. “Semua tumpah ruah jadi satu dan ikut dalam satu permainan. Nggak heran kalau banyak peternak mandiri yang rontok,” terang Yan.
Untung Makin Tipis
Menjamurnya peternak kemitraan di daerah Bandung juga disebutkan Jajang Hermawan sebagai sebab tidak stabilnya harga ayam di wilayah tersebut. Peternak mandiri yang didapuk jadi Ketua PPBR (Perhimpunan Peternak Bandung Raya) ini menuding, banyak usaha kemitraan baru yang muncul belum punya pasar. “Alhasil, strateginya adalah harga ayam dibanting lebih murah di bawah harga pasaran agar pasar yang ada bisa direbut,” ujarnya gusar.
Jajang mengatakan, posisi harga ayam yang di bawah HPP (Harga Pokok Produksi) yang berkepanjangan beberapa bulan terakhir menjadi peringatan bagi peternak mandiri. “Kalau kondisi seperti ini terjadi terus–terusan sangat berat bagi peternak mandiri. Yang tidak kuat pasti gulung tikar,” kata dia.
Kadma Wijaya, peternak mandiri yang juga di daerah Bogor, memberikan gambaran makin mepetnya laba dari waktu ke waktu. Disebutnya, kalkulasi margin keuntungan peternak mandiri dari dulu sampai sekarang angkanya di kisaran Rp 500 – 1.000 per kg. “Semakin besar skala usaha, margin keuntungan semakin besar karena semakin efisien,” jelasnya.
Sumarno peternak mandiri dari daerah Mojokerto Jawa Timur juga menyebut kisaran margin keuntungan peternak mandiri saat ini sekitar Rp 500 per kg. Bahkan, angka tersebut dinilainya sudah termasuk besar karena tak jarang margin keuntungan hanya Rp 200 per kg. “Apalagi kalau harga DOC dan pakan naik terus, HPP jadi membengkak otomatis margin keuntungan makin berkurang,” jelas lelaki yang menjadi peternak sejak 2004 ini.
Tetap Pilih Mandiri
Menariknya, sekalipun kerap dibuat jungkir balik dan berdarah-darah oleh gejolak harga ayam hidup di pasaran, para peternak “veteran” ini tak surut tekadnya untuk tetap basah kuyup dalam bisnis broiler. Dan walaupun fluktuasi harga dipastikan masih bakal menghantui usahanya, tidak terbersit oleh para peternak mandiri ini untuk beralih bergabung dalam tren peternakan kemitraan, menjadi mitra (baca: plasma) perusahaan integrator.
Jajang misalnya, bertekad tetap menjadi peternak mandiri. Alasan dia, ingin sepenuhnya merasakan dan membuktikan sejauh mana keuntungan/kerugian yang diperoleh. Soal risiko rugi, kata dia itu konsekuensi dari usaha. Dan alasan utama, tentu saja untung yang bisa diraup. Jajang mengakui, berdasarkan pengalaman, selisih harga jual ayam hidup milik peternak mandiri di pasaran umumnya lebih tinggi ketimbang peternak kemitraan.
sumber : majalah TROBOS Livestock edisi Januari 2013 atau bisa lihat di http://www.trobos.com/show_article.php?rid=4&aid=3709
Sabtu, 19 Januari 2013
Selasa, 07 Agustus 2012
Kajian Fathul Qarib
Materi kajian Jum’at (09/03) masih sama dengan Jum’at sebelumnya, yaitu melanjutkan tentang bab shalat. Dalam kajian tersebut dijelaskan tentang beberapa rukun shalat,antara lain:
1. Niat
2. Takbiratul ihram
3. Berdiri tegak bagi yang berkuasa ketika shalat fardhu. Boleh sambil duduk atau berbaring bagi yang sedang sakit
4. Membaca Al-Fatihah pada tiap-tiap raka’at, baik sholat sendiri (Munfarid) maupun secara berjama'ah.
5. Rukuk dengan tumakninah
Sempurnanya rukuk adalah antara punggung dan leher lurus
6. Berdiri setelah rukuk
7. I’tidal dengan tumakninah
8. Sujud dengan tumakninah
Ketika hendak sujud tidak disunnahkan mengangkat tangan, dan ketika sujud kening harus menekan tempat sujud. Urutan bagian-bagian tubuh yang harus menempel ke tempat sujud ketika sujud adalah lutut kemudian tangan terus kening dan hidung bersamaan.
9. Duduk diantara dua sujud (duduk iftirosy) dengan tumakninah
10. Duduk tasyahud akhir (duduk tawaruk) dengan tumakninah
11. Membaca tasyahud akhir
12. Membaca shalawat nabi pada tasyahud akhir, minimal mengucapkan Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad sedangkan untuk keluarga beliau sunnah hukumnya.
13. Membaca salam yang pertama, sekurang-kurangnya As-salaamu’alaikum, tetapi yang paling sempurna adalah As-salaamu’alaikum wa rahmatullaah
Dengan membaca salam yang pertama, pertanda bahwa shalat telah selesai
14. Tertib: beurutan mengerjakan rukun-rukun tersebut
Rukun-rukun tersbeut kemudian dirincikan menjadi tiga yaitu:
- Rukun Qolbi (niat)
- Rukun Qauli (ucapan)
- Rukun Af’ali (gerakan)
Rukun-rukun tersebut di atas apabila ditinggalkan mengakibatkan shalat seseorang tidak sah atau batal.
Adapun Sunnah-Sunnah Yang Dikerjakan Sebelum Shalat, antara lain:
Adzan
Iqomah
Jika shalatnya sendiri disunnahkan membaca iqomah saja
.
Sunnah-Sunnah Yang Dikerjakan Ketika Shalat, antara lain:
Sunnah Ab’ad yang meliputi,
- Tasyahud awal (jika lupa mengerjakan tasyahud awal, dan jika ingatnya saat berdiri, maka tidak boleh diulang tasyahud awalnya)
- Qunut pada shalat subuh
- Qunut pada akhir witir disetengah terakhir bulan Ramadhan
Jika lupa tidak mengerjakan sunnah-sunnah tersebut, maka dianjurkan menggantinya dengan sujud syahwi
2.Sunnah Haiat (Jika lupa mengerjakan sunnah-sunnah ini tidak dianjurkan untuk menggantinya dengan sujud sahwi) yang meliputi,
- Mengangkat tangan
- Membaca do’a iftitah
- meletakkan Tangan kanan diatas tangan kiri
- Membaca nyaring (jahr) pada shalat maghrib, isya’ dan subuh
- Membaca lirih (sirr) pada shalat dhuhur dan ashar
- Membaca amin, lebih afdhol jika membacanya bersamaan dengan imam.
- Membaca surat-surat pendek setelah membaca Fatihah, lebih dianjurkan membaca surat yang berurutan sesuai mushhaf (contohnya: At-Takatsur kemudian Al-'Ashr )
- Membaca tasbih ketika ruku' dan sujud
- Meletakkan tangan diatas paha ketika duduk diantara dua sujud
Terdapat beberapa pertanyaan dalam kajian kemarin
Membaca do’a pada saat sujud diperbolehkan apa tidak?
Jawab: Boleh, dengan syarat harus menggunakan bahasa arab dalam berdo’a
Bagaimana cara yang benar dalam mengerjakan rukuk?
Jawab: Sempurnanya rukuk adalah lurus (tulang ekor lurus, punggung, dengan leher)
Bagaimana jika selesai shalat kita bimbang sudah mengerjakan sujud atau belum?
Jawab:Jika benar-benar lupa maka harus diulang.
Wallahu a'lamu bish Showab
Maqolah Selasa. 7 Agustus 2012
Maqolah Selasa. 7 Agustus 2012
" Tidaklah ada hasilnya bagi orang - oarng yang berakal budi selalu berada ditempat. Tinggalkanlah tempat - tempat kelahiranmu, mengembaralah ".
( Al-Imamus - Syafi'i )
" Manusia pada hakikatnya mati kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pada hakikatnya tidur kecuali yang mau mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu kecuali orang yang ikhlas ".
( Imam Al-ghozali )
Senin, 06 Agustus 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Archive
-
►
2014
(1)
- ► 01/12 - 01/19 (1)
-
►
2013
(28)
- ► 11/03 - 11/10 (3)
- ► 10/27 - 11/03 (5)
- ► 10/20 - 10/27 (2)
- ► 04/07 - 04/14 (7)
- ► 03/31 - 04/07 (1)
- ► 01/20 - 01/27 (9)
- ► 01/13 - 01/20 (1)
-
►
2012
(3)
- ► 08/05 - 08/12 (3)







+Lama.jpg)